10 Gangguan “Normal” pada Anak Usia 6 Bulan-5 Tahun



Jangan 10 Gangguan “Normal” pada Anak Usia 6 Bulan-5 Tahun




Sebagian orangtua yang mempunyai balita mengalami berberapa gejala dan gangguan pada anaknya yang bermula justru sejak usia 6 bulan lebih sering terjadi. Namun dengan pertambahan usia gangguan tersebut akan membaik setelah usia 5 tahun secara bertahap. Gangguan “Normal” istilah tersebut diangkat karena selama ini berbagai gangguan tersebut selama ini dianggap normal oleh para orang tua dan sebagian dokter. Tetapi nyatanya tidak normal karena sebagian anak lainnya tidak mengalami. Gangguan tersebut berupa sulit makan, daya tahan tubuh menurun, gangguan tidur, anak tidak bisa diam, dan berbagai gangguan lainnya. Karena usia-usia tersebut meningkat sering dianggap biasa dan masa -masa anak memang seperti itu. Memang benar setelah usia 5-7 tahun membaik. Tetapi selama itu anak akan mengalami berbagai gangguan yang sangat mengganggu kadang cukup berbahaya.
Sering kita dengar dari orangtua kita secara turun temurun atau bahkan sebagian dokter juga secara turun temurun sampai saat ini banyak yang masih menganut bahwa semua gangguan tersebut adalah hal yang biasa dan normal. Ini dapat dilihat saat ketika anak sulit makan, tidak biasa diam, gangguan tidur malam. Seringkali orangtua atau sebagian dokter menganggap hal itu biasa dan merupakan masa-masa anak seperti itu. Memang benar sebgian anak sekitar 30% mengalami hal itu terjadi antara usia 6-5 tahun. tetapi sebagian besar anak lainnya tidak mengalami, sehingga hal tersebut seharusnya bukan diangap yang biasa dan normal. Tetapi memang bila ada yang mengatakan normal tidak salah karena biasanya yang terjadi adalah gangguan fungsional tubuh yang akan membaik dengan pertambahan usia. Seringkali hal yang ringan tersebut dianggap remeh dan biasa dan akan membaik sendiri padahal bila diketahui sebabnya dapat dilakukan intervensi dan dapat dicegah paling tidak dapat diminimalkan
Menurut berbagai penelitian dan pengalaman klinis yang diamati dari 546 penderita rawat jalan di Children Allergy Clinic Jakarta ternyata berbagai gangguan tersebut dapat diminimalkan atau dicegah sebelum usia 5-7 tahun. Berbagai gangguan tersebut ternyata sering dikaitkan dengan ketidakmatangan fungsi saluran cerna atau imaturitas saluran cerna. Gangguan fungsional ini seringkali terjadi pada penderita alergi dan hipersensitif makanan. Saat dilakukan intervensi eliminasi provokasi makanan ternyata berbagai gangguan tersebut dapat berkurang bahkan sebagian dapat membaik sangat drastis.
Berbagai gangguan tersebut mempuyai beberapa variasi. Pada kelompok tertentu gangguan tersebut terjadi usia sejak lahir hingga usia 5-77 tahun. Tetapi pada kelompok lainnya ada yang timbul justru setelah usia 5-7 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa allergy march atau perjalanan alamiah hipersensitif saluran cerna dan alergi berbeda dalam setpa kelompok dan setap usia.
10 Gangguan “Normal” Sejak Usia 6 Bulan Membaik Usia 5 Tahun
  1. Kesulitan Makan Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak (1). Kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan berlama-lama dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil

  2. Gangguan Kenaikkan berat badan Gangguan pertumbuhan atau sering disebut gagal tumbuh atau Failure to thrive bukanlah suatu diagnosis, tetapi merupakan terminologi yang dipakai untuk menyatakan masalah khusus. Istilah gagal tumbuh dipakai untuk menggambarkan anak yang tak dapat tumbuh sesuai harapan. Kegagalan bertumbuh atau lebih khusus adalah kegagalan mendapatkan kenaikan berat badan meskipun pada kasus tertentu juga disertai terjadi gangguan pertumbuhan linear dan lingkar kepala dibandingkan anak lainnya yang seusia atau sama jenis kelaminnya. Secara umum, gagal tumbuh berarti anak yang dalam catatan kenaikkan berat badan dan tinggi badannya menurut tabel dibawah 3 - 5 persentil atau turun 2 tingkat pertumbuhan dalam persentil, misalnya pertumbuhan yang awalnya 75 persentile menjadi 25 persentile. Gangguan pertumbuhan pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kualitas dan jumlah asupan kalori pada anak. Kualitas dan jumlah kalori tergantung beberapa hal diantaranya adalah masukan kalori yang tidak adekuat, absorpsi (penyerapan) tidak adekuat dan kebutuhan kalori yang meningkat

  3. Gangguan Tidur Banyak orang tua mengeluh bahwa anaknya seringkali sulit tidur malam atau gangguan tidur yang lain. Hal itu biasa terjadi sejak bayi hingga usia di atas 5 tahun. Hal itu sering dikeluhkan kepada dokter tetapi saat ini jarang sekali bisa dijelaskan dengan baik mengapa hal itu terjadi. Penyebab gangguan tidur sangat banyak dan bervariasi. Gangguan tidur sering dialami oleh sekitar 70% anak dengan keluhan sulit makan dan anak kurus. Ternyata sebagian besar penyebab gangguan tidur pada anak disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna dipicu pengaruh alergi dan hipersensitifitas makanan. Setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu gangguan sulit makan dan gangguan tidur yang ada selama ini menjadi membaik. secara bersamaan. Penderita gangguan kenaikkan berat badan dan sulit makan sebagian besar mengalami alergi dan hipersensitf saluran cernaGangguan tidur biasanyan ditandai dengan tidur larut malam, bolak-balik ujung ke ujung, “nungging”, berbicara, tertawa,berteriak saat tidur, sering terbangun duduk saat tidur,mimpi buruk, “beradu gigi”(bruxism) Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. The International Classification of Sleep Disorders mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasifikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan ICD 10 menggolongkan dalam G47.0+T78.4 sebagai Disorders of Initiating and Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok 780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type

  4. Anak Tidak Bisa Diam atau overaktif Perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik. Anak tidak bisa diam, banyak bergerak, Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” anak perempuan main bola, memanjat dll. Sering merasa gelisah tampak pada tangan, kaki dan menggeliat dalam tempat duduk Sering meninggalkan tempat duduk dalam kelas atau situasi lain yang mengharuskan tetap duduk. Sering berlari dari sesuatu atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak seharusnya (pada dewasa atau remaja biasanya terbatas dalam keadaan perasaan tertentu atau kelelahan ) Sering kesulitan bermain atau sulit mengisi waktu luangnya dengan tenang. isering berperilaku seperti mengendarai motor Sering berbicara berlebihan. Kerap berlompat-lompatan, lebih dari anak lain. Biasanya anak dengan gejala seperti itu juga mengalami gangguan konsentrasi, agresif dan gangguan emosi yang sangat labil dapat cepat tersulut marah dan emosinya

  5. Daya Tahan tubuh jelek atau mudah sakit. Penyebab utama mengapa anak sering mudah tertular sakit demam, batuk dan pilek berulang berkepanjangan adalah karena daya tahan tubuh tidak optimal dan kontak di lingkungannya ada yang sering sakit. Saat anak sering sakit orangtua seringkali menyalahkan karena tertular di sekolah. Memang mungkin benar tertular di sekolah tetapi yang utama adalah daya tahan tubuh yang lemah dari si anak. Karena di sekolah selamanya sangat mungkin tidak akan pernah bebas dari anak sakit. Selain itu tidak disadari kontak orang sakit yang menjadi penyebab utama justru lebih sering terjadi di rumah. Bisa ayah, ibu, kakak dan orang lain yang mudah sakit tetapi selama ini dianggap alergi, masuk angin, terlalu lelah atau panas dalam. Keluhan demam, batuk dan pilek yang berkepanjangan tersebut seringkali dianggap karena alergi, padahal yang lebih dominan adalah anak lebih mudah terkena infeksi virus saluran pernapasan. Memang benar anak mungkin mengalami alergi tetapi hal ini terjadi karena penderita alergi khususnya dengan gangguan saluran cerna dengan keluhan mudah mual dan muntah biasanya daya tahan tubuhnya rendah dan mudah sakit. Bukan hanya orangtua bahkan dokterpun kadang sulit membedakan antara infeksi dan alergi.

  6. Sulit BAB Sebagian anak sejak lahir hingga sekarang hingga usia 5-7 tahun , sering mengalami gangguan sulit buang air besar. Kadang BAB setiap 2-3 hari sekali bahkan pernah seminggu tidak buang air besar. Berbagai obat sudah diberikan mulai pencahar minum hingga lewat anus tidak banyak membantu. Adivis untuk makan buah, sayur, serat dan minum air putih banyak sudah dilakukan tetapi hasilnya nihil. Bahkan setelah usia 9 bulan anusnya tampak timbul tonjolan daging. Setelah itu berganti-ganti dokter, terdapat salah seorang dokter mengadviskan untuk dilakukan penanganan alergi dan hipersensitifitas makanan dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan ternyata tidak dalam waktu lama keluhan gangguan buang air besarnya membaik

  7. Sesak atau mengi. Asma adalah kondisi berulang dimana rangsangan tertentu mencetuskan saluran pernafasan menyempit untuk sementara waktu sehingga membuat kesulitan bernafas. Asma merupakan suatu penyakit peradangan saluran napas yang sifatnya kronik (menahun). Meskipun asma dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering terjadi pada anak-anak, terutama sekali pada anak mulai usia 5 tahun. Namun sebagian kasus justru timbul mengi sebelum usia 5 tahun. Pada kelompok ini justru setelah usia 5-7 tahun akan berkurang atau membaik meski sebagian kecil ada yang berkepanjangan. Penyakit asma ditandai dengan tiga hal, antara lain mengkerutnya saluran napas, pembengkakan, dan pengeluaran lendir yang berlebih pada saluran napas. Penyakit ini merupakan salah satu manifestasi alergi.

  8. Gangguan Kulit atau dermatitis Gangguan ini biasanya bermula sejak lahir akan bertambah membaik dengan pertambahan usia. Tetapi saat usia 6 bulan saat seharusnya membaik akan bertambah lagi keluhannya. Gejala dari dermatitis alergi ini adalah ruam kulit, gatal-gatal, bersisik dan kadang-kadang terbakar. Pada wajah dapat menyebabkan bengkak, merah, dan kulit melepuh. Dermatitis ini dapat berupa tanda-tanda kemerahan ringan sampai pecah-pecah ekstrim dan lecet. Dermatitis alergi dapat langsung terjadi jika terjadi kontak langsung dengan alergen atau berlangsung hingga 48 sampai 72 jam sebelum reaksi dapat terlihat pada kulit. Reaksi yang tertunda seperti inilah yang membuat lebih sulit untuk mendiagnosa alergen tertentu yang menyebabkan eksim.

  9. Napas grok-grok Gangguan ini biasanya bermula sejak lahir akan bertambah membaik dengan pertambahan usia. Tetapi saat usia 6 bulan saat seharusnya membaik akan bertambah lagi keluhannya. Beberapa orang tua sering mengeluhkan kepada dokter bahwa suara napas berbunyi atau sering disebut Hipersekresi bronkus yang dialami bayinya. Napas berbunyi grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lebih sering dan lebih lama dan bila batuk terdapat dahak berlebihan. Alergi termasuk gangguan yang menjadi permasalahan kesehatan penting pada usia anak. Gejala alergi yang menimbulkan hipersekrtesi bronkus atau suara grok-grok pada bayi sering dicetuskan dan disebabkan karena banyak faktor. Tetapi yang paling sering terjadi justru dipicu atau diperberat karena infeksi virus ringan yang tidak terdeteksi. Sedangkan faktor lainnya dengan manifestasi lebih ringan disebabkan karena diet ibu bila minum ASI dan makanan yang dikonsumsi termasuk susu sapi. Seringkali dokter atau orangtua sulit membedakan faktor mana yang menjadi penyebab, bahkan seringkali setiap kali timbul gejala alergi langsung divonis alergi susu sapi dan harus ganti susu khusus padahal belum tentu alergi susu sapi

  10. Anak Mudah Mual dan Muntah Gangguan ini biasanya bermula sejak lahir akan bertambah membaik dengan pertambahan usia. Tetapi saat usia 6 bulan saat seharusnya membaik akan bertambah lagi keluhannya.Muntah adalah suatu gejala bukan merupakan sebuah penyakit. Gejala ini berupa keluarnya isi lambung dan usus melalui mulut dengan paksa atau dengan kekuatan. Muntah merupakan reflek protektif tubuh karena dapat berfungsi melawan toksin yang tidak sengaja tertelan. Selain itu, muntah merupakan usaha mengeluarkan racun dari tubuh dan bisa mengurangi tekanan akibat adanya sumbatan atau pembesaran organ yang menyebabkan penekanan pada saluran pencernaan. Secara umum muntah terdiri atas tiga fase, yaitu nausea (mual), retching (maneuver awal untuk muntah) dan regurgitasi (pengeluaran isi lambung/usus ke mulut).
Akibat Imaturitas Saluran Cerna
Berbagai gangguan tersebut ternyata sering dikaitkan dengan ketidakmatangan fungsi saluran cerna atau imaturitas saluran cerna. Gangguan fungsional ini seringkali terjadi pada penderita alergi dan hipersensitif makanan. Mengapa setelah usia 5-7 thaun membaik karena saat itu ketidakmatangan saluran cerna tersebut akan membaik setelah usia 5-7 tahun. Berbagai penelitian menunjukkan keterkaitan berbagai gangguan tersebut dengan alergi atau imaturitas saluran cerna.
Mengapa gangguan tersebut lebih berat dan sering terjadi setelah usia 6 bulan karena mulai diberi makanan tambahan baru. Bila peenderita alergi atau hipersensitifitas makanan diberi berbagai makanan yang mengangguan saluran cerna akan menimbulkan berbagai dampak tersebut. Mengapa usia 5-76 tahun berangsur membaik ? Karena pada usia tersebut ketidakmatangan saluran cerna secara bertahap membaik.

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity)

(Gejala Gangguan Fungsi saluran cerna yang ada selama ini sering dianggap normal)
  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

  • Pada anak yang lebih besar :
  1. Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari.

  2. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB sering ngeden kesakitan saat BAB (obstipasi). Kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, warna hitam, hijau dan bau tajam. sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT, tidur malam nungging (biasanya karena perut tidak nyaman)

  3. Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan
Penanganan
  • Penanganan terbaik anak dengan berbagai gangguan fungsional tersebut adalah mencari trigger atau penyebab dan pemicunya. Pada penderita gangguan fengsi saluran cerna saluran cerna dengan melakukan intervensi reaksi simpang makanan adalah dengan menghindari makanan penyebabnya maka keluhan sulit makan dan berbagai keluhan gangguan perilaku juga berkurang. Untuk mengetahui jenis reaksi simpang makanan, harus dilakukan anamnesis riwayat keluhan yang cermat, pemeriksaan fisik dan eliminasi provokasi. Disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratotium penunjang untuk membedakan apakah suatu alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit celiac atau reaksi makanan lainnya.

  • Pemberian ensim, obat-obatan saluran cerna dan vitamin lainnya dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab reaksi simpang makanan tersebut. Mengenali secara cermat gejala reaksi simpang makanan dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gangguan pada saluran cerna, sistem susunan saraf pusat dan gangguan perilaku dapat dikurangi.

  • Penanganan anak sepuluh gangguan tersering apada anak tersebut yang sering disertai reaksi simpang makanan harus dilakukan secara holistik. Selain menghindari makanan penyebab maka diperlukan penanganan multidisiplin ilmu kesehatan anak. Bila perlu harus melibatkan bidang neurologi, psikiater, tumbuh kembang, endokrinologi, alergi, gastroenterologi dan bidang ilmu kesehatan anak lainnya

  • Di masa depan pendapat bahwa gangguan tersebut adalah hal biasa karena masa -masa usia anak sebaiknya mulai harus ditinggalkan karena bila dilakukan intervensi berbagai keluhan tersebut dapat diminimalkan.

  • Berbagai gangguan tersebut bila dianggap normal akan dibiarkan dan akan menimbulkan berbagai macam komplikasi dan akan memperparah Allergy march atau perjalanan alamioah penyakit alergi dikemudian hari. Awalnya usia 5-7 tahun hanya sensitif saluran cerna dan kulit tetapi usia setelah 5-7 tahun berubah menjadi asma, bronkitis, rinitis atau sinusitis. Gangguan anak tidak bisa diam akan menjadi masslah saat anak memasuki usia sekolah karena sering disertai gangguan konsentrasi.

0 komentar:

Posting Komentar